Sabtu, 17 November 2012

Genesis Dan Klasifikasi Tanah



Tanah Wonosari

A. Proses Pelapukan          

Tanah dapat berasal dari batuan keras (batuan beku, batu sedimen tua, batuan metamorfosa) yang melapuk, atau dari bahan-bahan yang lebih lunak dan lepas seperti abu volkan, bahan endapan baru dan lain-lain. Dengan proses pelapukan maka permukaan batuan yang keras menjadi hancur dan berubah menjadi bahan yang lunak yang disebut regolit. Selanjutnya melalui proses pembentukan tanah, bagian atas regolit berubah menjadi tanah. Proses pelapukan mencakup beberapa hal yaitu pelapukan secara
fisik, biologik-mekanik, dan kimia.

1. Pelapukan Secara Fisik

Pelapukan secara fisik yang terpenting adalah akibat naik turunnya suhu dan perbedaan kemampuan memuai (mengembang) dan mengerut dari masing-masing mineral. Karena masing-masing mineral akibat perubahan suhu mengembang dan rnengerut dengan kekuatan yang berbeda-beda, maka bantuan menjadi rapuh dan mudah hancur.
Di daerah dingin, bila air yang masuk dalam batuan dapat berubah menjadi es akibat suhu yang sangat rendah, maka karena volume es lebih besar dari volume air, juga dapat menyebabkan pecahnya batu-batuan. Pengangkutan batuan dari suatu tempat ke tempat lain oleh air juga dapat menyebabkan pela- pukan batuan secara fisik.

2. Pelapukan Secara Biologik-Mekanik

Akar-akar yang masuk ke dalam batuan melalui retakan-retakan batuan dapat terus berkembang dengan kekuatan yang sangat tinggi sehingga dapat menghancurkan batuan tersebut. Sel-sel akar yang berkembang dapat menimbulkan kekuatan lebih dari 10 atm sehingga tidak mengherankan kalau batuan dapat menjadi hancur akibat perkembangan akar di dalamnya.

3. Pelapukan Secara Kimia

Hidrasi dan dehidrasi:
Hidradi adalah reaksi kimia di mana molekul air terikat oleh senyawa-senyawa tertentu, sedang dehidrasi adalah hilangnya molekul air dari senyawa-senyawa tersebut.
CaSO4 + 2H20 CaSO4 2H20 (hidrasi)
CaSO4 2H20 CaSO4 + 2H20 (dehidrasi)
Hidrasi dapat menyebabkan mineral menjadi lebih lunak dan meningkat daya larutnya. Disamping itu hidrasi dan dehidrasi dapat menyebabkan perubahan volume mineral sehingga mempercepat proses disintegrasi.

Oksidasi dan reduksi:
Oksidasi adalah suatu proses di mana elektron-elektron atau muatan lis trik negative menjadi berkurang.
Reduksi berarti penambahan elektron. Oksidasi berlangsung baik bila oksigen cukup tersedia, sedang
reduksi akan berjalan bila tidak ada oksigen.
Fe++ Fe+++ + e (oksidasi)
Fe+++ + e Fe++ (reduksi)
Oksidasi merupakan proses disintergrasi yang penting pada mineral-mineral yang mengandung besi fero seperti biotit, glaukonit, hornblende, piroksin, dan lain-lain. Karena perubahan ukuran dan muatan dari fero (Fe++) ke feri (Fe+++) maka mineral-mineral menjadi mudah hancur.
            Reduksi dapat mengubah besi feri menjadi fero yang sangat mudah bergerak (mobile). Dalam bentuk ini besi dapat hilang dari tanah kalau pencucian air terjadi. Bila tidak tercuci besi fero akan bereaksi dengan sulfur membentuk sulfida atau senyawa-senyawa lain sehingga terjadi warna hijau-kebiruan yang khas untuk tanah tereduksi.
Hidrolisis:
            Hidrolisis terjadi karena adanya penggantian kation-kation dalam struktur kristal oleh hidrogen sehingga struktur kristal rusak dan hancur.
K Al Si3 08 + H+ (feldspar) H AI Si3 08 + K+
Hidrolisis merupakan pelapukan kimia yang terpenting, karena dapat menghasilkan penghancuran yang sempurna atau modifikasi drastis terhadap mineral-mineral mudah lapuk.

Pelarutan (solution):
Pelarutan terjadi pada garam-garam sederhana seperti karbonat, klorida, dan lain-lain.
CaCO3 + 2H+ H2CO3 + Ca++

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Departemen Geografi FMIPA UI

Program Studi Pendidikan Geografi